Postingan

Titik Balik

Bismillahirrahmanirrahim, Pagi itu tepat hari Selasa, 5 Februari 2019 percakapanku dan mentorku dibuka dengan permohonan doa untuk kesembuhan seseorang, seseorang yang ada disekeliling kami, seseorang yang bagiku adalah contoh nyata kelembutan dan keteduhan wanita. Beliau dikabarkan masuk ruang ICU karena mengalami pre-eclamsia berat dan sudah masuk fase kritis, pre-eclamsia adalah gangguan kehamilan dimana si ibu mengalami tekanan darah tinggi dan urin mengandung protein yang terlalu banyak, lengkapnya bisa temen-temen baca disini https://m.fimela.com/parenting/read/3838902/penyebab-kehamilan-mengalami-pre-eclampsia-part-1  Preclamsia biasanya terjadi pada seorang wanita yang sedang mengandung, iya, beliau sedang mengandung 8 bulan menuju 9 bulan. Dan si ade bayi harus dikeluarkan demi menurunkan risiko yang tidak diinginkan antara keduanya. Sang ibu ada di ICU, dan ade bayi ada di NICU. Sedih? Jelas, karena beliau salah satu orang terdekat yang baik. Baik dal...

Tentang Si Baik

Dewasa ini, subhanallah, Allah swt kasih banyak banget pelajaran. Tak lepas dari mencari sebuah hikmah, serta orang-orang yang membawanya. Sebenarnya berputar terus disitu, namun kadang, namanya manusia, harus selalu diingatkan. Bicara tentang orang baik, aku ingin menjadi orang baik, aku ingin adikku juga jadi orang baik, begitu pula orang tua, keluarga, saudara, teman-teman, pasanganku kelak, anak-anakku nanti, cucuku, daaaaaaan seterusnya. Orang baik punya versinya masing-masing, malah sejatinya orang jahat sekalipun sebenarnya punya sisi baik juga. Dari sharing ilmu yang pernah aku dapat bilang bahwa, sifat dasar manusia memang baik, lingkungan dan keadaan yang menjadi faktor perubahnya. Siapa orang baik itu? bisa siapa saja, bahkan kamu mungkin? Orang baik versiku, adalah dia yang mendahulukan kepentingan orang lain, baru dirinya, fokus si baik tentang seberapa banyak orang yang ia bantu, semakin banyak, semakin lebar lekukan senyumnya. Bagi si baik, imbalan atau balasan ...

Lillah

Memang ya, duduk dimeja belajar, saat malam hari, sepi, angin sepoy sepoy, dan setelah merasa lelah seharian, lalu mencurahkan isi fikiran kedalam tulisan adalah momen yang tentram banget. Hari ini, aku lagi merasakan bahwa 2 minggu terakhir, tubuhku, fikiranku, egoku, dipacu sedemikian maksimalnya. Bukan tanpa alasan, melainkan untuk menciptakan perubahan. Tidak sendirian, kalau kata Dilan, "berat, aku ga akan kuat". Bukankah kalau mau ada perubahan harus ada yang dikorbankan? Bukankah kalau mau ada perubahan harus bergerak? Bukankah kalau mau ada perubahan harus yakin? yes, i did, dalam 2 minggu ini waktu tidur dan istirahat yang aku korbankan, rasa malas yang mencoba menguasai harus ditepis, dan percaya kepada teman-teman tim bahwa kita bisa melakukan yang sebelumnya belum pernah terjadi. And then what? Allah Subhanahu Wata'ala benar-benar sesuai dengan prasangka hamba-NYA Wuah luar biasa banget, saat aku belajar bagaimana kita harus yakin pada diri kita...

Generasi Masjid

Gambar
Sabtu, 2 Juni 2018 kemarin menjadi saat paling mendebarkan sepanjang pengalamanku menjadi Master of Ceremony. Pada hari itu, komunitas atau gerakan yang kami (dosenku, asisten dosen, dan teman) dirikan, Masjid Seru, melaksanakan workshop perdananya mengenai Pengembangan dan Pemberdayaan Masjid, yang tentunya mengundang para pembicara hebat yaitu Bapak Heppy Chandra (Alumni Gontor Ponorogo dan juga seorang Professional Public Speaker) dan juga Ustadz Nur Fajri Ramadhon (Co-Founder Yayasan BISA). Sampai di sini aku masih bisa mengontrol detak jantungku. Poster Workshop Namun, setelah tau bahwa peserta yang hadir adalah Calon Hafidz dan Hafidzah Indonesia Quran Foundation, rasanya gugup luar biasa. Antara senang, takut, dan malu, rasanya campur aduk, walaupun beberapa wajahnya aku kenal karena pernah bertemu dalam kegiatan lain. Suasana hati mulai cair saat salah seorang akhwat memanggil namaku dan ternyata dia adalah teman dari fakultas lain, ya obrolan beberapa menit sebelu...

Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah

Saat menulis blog ini, suasana Depok lagi romantis karena beberapa hari terakhir hujan selalu turun diantara waktu magrib sampai malam, suara gemericiknya menemani kesejukan solat tarawih, wangi petrikor bikin senyum-senyum sendiri ditambah gemaan suara imam Masjid UI yang semakin hari semakin merdu saja suaranya. Suasananya sangat mendukung kondisi diri yang sedang ingin dalam ketenangan, sedang berusaha tenang dalam segala kondisi, sedang harap-harap cemas juga karena semester 4 sudah mau selesai. Ada beberapa hal baru yang terjadi beberapa bulan ini, yang aku tidak sangka akan terjadi secepat ini. Salah satunya pengalamanku ke Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Berawal dari cerita seorang dosen yang mengelilingi beberapa kota di Indonesia yang terkenal dengan pendidikannya, seribu masjidnya, dll. Salah satunya adalah Masjid Jogokariyan. Masjid yang hidup bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan anak-anak dan remaja, pusat perekonomian, pusat pengembangan sosia...

2.0 New Version

Ronde baru kehidupan baru saja melewatiku, Perubahan kepala usia menjelaskan bahwa aku bukan lagi Nisa kecil yang bisa sesantai dulu memikirkan kehidupan beberapa tahun kedepan. Bukan berarti tidak pernah membahas persoalan dewasa, orang tuaku cukup kritis untuk membawa anak-anaknya berdiskusi dalam beberapa masalah.  Bedanya, diusia ini, semua dijelaskan secara gamblang tanpa malu-malu. Sisi lembut bundaku, terpancar seolah dalam beberapa waktu kedepan ia harus mempersiapkan dan merelakan anak perempuannya untuk menjadi milik orang lain. 2.5 tahun terakhir menjadi perubahan terbesar dalam hidup seorang Nisa. Keinginan untuk mempelajari Islam secara mendalam dalam segala aspek kehidupan mulai menarik hati. Jika dulu belum sepenuhnya aku pahami, maka 2.5 tahun lalulah mulanya. Jika dulu aku masih bandel, 2.5 tahun lalulah langkah awalnya. Perubahannya? Signifikan. Allah menjawab beberapa mimpiku dan membuka jalan fikiranku dalam berbagai hal salah satu...

Dua Muka

Ragamu berada dalam keramaian tapi wajahmu seolah kebingungan melawan raut yang seharusnya terpancar menekan beban agar tak kelihatan bersembunyi dibalik giliran lampu lampu malam dan suara bising yang mengalihkan jeritan dalam dada seolah semua terhapus sirna tergantikan sesaat padahal ia selalu siap kembali merasuki raga yang lemah itu. sendu sendiri engkau bercerita tentang kado yang kau terima entah apa itu yang jelas rasanya lebih pahit daripada biji kopi tak ada nikmat sama sekali tugasmu hanya bagaimana ia pergi dan berharap ada yang datang membawa gula sebagai ganti jika boleh saja diam sesaat, pasti tubuhmu begitu berisik dan berteriak tak terima selalu dibawa tak sesuai arah. letih ingin berhenti