Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah
Saat menulis blog ini, suasana Depok lagi romantis
karena beberapa hari terakhir hujan selalu turun diantara waktu magrib sampai malam, suara gemericiknya menemani kesejukan solat tarawih, wangi petrikor bikin senyum-senyum sendiri ditambah gemaan suara imam Masjid UI yang semakin hari semakin merdu saja suaranya. Suasananya sangat mendukung kondisi diri yang sedang ingin dalam ketenangan, sedang berusaha tenang dalam segala kondisi, sedang harap-harap cemas juga karena semester 4 sudah mau selesai.
Ada beberapa hal baru yang terjadi beberapa bulan ini, yang aku tidak sangka akan terjadi secepat ini. Salah satunya pengalamanku ke Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Berawal dari cerita seorang dosen yang mengelilingi beberapa kota di Indonesia yang terkenal dengan pendidikannya, seribu masjidnya, dll. Salah satunya adalah Masjid Jogokariyan. Masjid yang hidup bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan anak-anak dan remaja, pusat perekonomian, pusat pengembangan sosial, bahkan kesehatan. Manajemen masjid yang diterapkan persis seperti Rosulullah SAW. Kalau teman-teman ingin baca lengkapnya, bisa kunjungi website Masjid Jogokariyan, disana ada materi manajemen masjid yang bisa diakses.
Lanjut ke cerita dosen,
sembari mendengarkan ceritanya, dalam hati sembari berdoa, "Ya Allah semoga bisa kesitu segera, kira-kira kapan ya?". kenapa bertanya? karena darah sunda membuatku jarang menjajaki wilayah diluar Jawa Barat kalau bukan ada keperluan khusus. Yogyakarta terakhir aku kunjungi semasa tour perpisahan SMA. Rasanya ingin nabung untuk bisa mengunjungi Yogyakarta, terlebih Masjid Jogokariyan.
Sebulan berlalu,
Kami mendapat undangan, asisten dosenku menikah. Kami (aku, para dosen, dan beberapa teman) diundang untuk hadir, lokasinya?
di Yogyakarta
Apa yang aku rasakan saat itu? Tidak menyangka Allah secepat ini menjawabnya. Singkat cerita aku izin kepada kedua orang tuaku dan kamipun berangkat menggunakan kereta. Lebih dari sekedar Undangan Pernikahan atau jalan-jalan, tetapi setiap langkahnya aku sisipkan doa dan harap agar Allah Subhanahu Wata'ala selalu menyertai setiap langkah ini, setiap hembusan nafasku. Karena itu yang sedang aku rasakan.
Terlebih, beberapa hari sebelum keberangkatan, DRPM UI (Direktorat Riset dan Pengembangan Masyarakat UI) mengumumkan bahwa proposal yang Superteam (nama tim kami yang terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa) buat, dinyatakan lolos. Allahuakabar
Proposal itu berisi pengembangan peradaban dari masjid, kurang lebih seperti itu, kami ingin menerapkan ilmu yang didapat saat mengikuti pelatihan Manajemen Masjid Jogokariyan kepada masjid-masjid yang ada di Depok dan sekitarnya. In Syaa Allah. Aamiin. Projeknya masih dalam proses pengembangan, semoga bisa tercapai tujuannya.
Dua hal itu, bahkan lebih, terjadi diluar kendaliku, terjadi diluar rencanaku.
lalu, untuk apa sekarang aku risau?
untuk apa sekarang aku cemas akan sesuatu yang Allah sudah takdirkan untukku ataupun yang tidak ditakdirkan untukku.
Aku tidak tau apa yang akan Allah Subhanahu Wata'ala berikan kepadaku satu detik setelah ini, esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan atau tahun tahun selanjutnya. Aku hanya bisa mempersiapkan segalanya yang terbaik, ikhtiar dan terus belajar, berdiskusi dengan orang-orang hebat dan yang pasti berdoa.
bahwa ada Allah Subhanahu Wata'ala yang memiliki sebaik-baiknya rencana
bahwa ada Allah Subhanahu Wata'ala yang mengatur urusan rezeki, jodoh, dan kematian setiap hamba-NYA
bahwa ada Allah Subhanahu Wata'ala yang tau kapan sesuatu itu baik untukku ataupun yang belum baik untukku
rasanya ingin menyerap setiap makna dari udara dan menanyakan,
"Ya Allah kedepannya akan seperti apa?"
"Ya Allah kuserahkan segalanya hanya kepada-MU"
Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah
karena beberapa hari terakhir hujan selalu turun diantara waktu magrib sampai malam, suara gemericiknya menemani kesejukan solat tarawih, wangi petrikor bikin senyum-senyum sendiri ditambah gemaan suara imam Masjid UI yang semakin hari semakin merdu saja suaranya. Suasananya sangat mendukung kondisi diri yang sedang ingin dalam ketenangan, sedang berusaha tenang dalam segala kondisi, sedang harap-harap cemas juga karena semester 4 sudah mau selesai.
Ada beberapa hal baru yang terjadi beberapa bulan ini, yang aku tidak sangka akan terjadi secepat ini. Salah satunya pengalamanku ke Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Berawal dari cerita seorang dosen yang mengelilingi beberapa kota di Indonesia yang terkenal dengan pendidikannya, seribu masjidnya, dll. Salah satunya adalah Masjid Jogokariyan. Masjid yang hidup bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan anak-anak dan remaja, pusat perekonomian, pusat pengembangan sosial, bahkan kesehatan. Manajemen masjid yang diterapkan persis seperti Rosulullah SAW. Kalau teman-teman ingin baca lengkapnya, bisa kunjungi website Masjid Jogokariyan, disana ada materi manajemen masjid yang bisa diakses.
Lanjut ke cerita dosen,
sembari mendengarkan ceritanya, dalam hati sembari berdoa, "Ya Allah semoga bisa kesitu segera, kira-kira kapan ya?". kenapa bertanya? karena darah sunda membuatku jarang menjajaki wilayah diluar Jawa Barat kalau bukan ada keperluan khusus. Yogyakarta terakhir aku kunjungi semasa tour perpisahan SMA. Rasanya ingin nabung untuk bisa mengunjungi Yogyakarta, terlebih Masjid Jogokariyan.
Sebulan berlalu,
Kami mendapat undangan, asisten dosenku menikah. Kami (aku, para dosen, dan beberapa teman) diundang untuk hadir, lokasinya?
di Yogyakarta
Apa yang aku rasakan saat itu? Tidak menyangka Allah secepat ini menjawabnya. Singkat cerita aku izin kepada kedua orang tuaku dan kamipun berangkat menggunakan kereta. Lebih dari sekedar Undangan Pernikahan atau jalan-jalan, tetapi setiap langkahnya aku sisipkan doa dan harap agar Allah Subhanahu Wata'ala selalu menyertai setiap langkah ini, setiap hembusan nafasku. Karena itu yang sedang aku rasakan.
Terlebih, beberapa hari sebelum keberangkatan, DRPM UI (Direktorat Riset dan Pengembangan Masyarakat UI) mengumumkan bahwa proposal yang Superteam (nama tim kami yang terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa) buat, dinyatakan lolos. Allahuakabar
Proposal itu berisi pengembangan peradaban dari masjid, kurang lebih seperti itu, kami ingin menerapkan ilmu yang didapat saat mengikuti pelatihan Manajemen Masjid Jogokariyan kepada masjid-masjid yang ada di Depok dan sekitarnya. In Syaa Allah. Aamiin. Projeknya masih dalam proses pengembangan, semoga bisa tercapai tujuannya.
Dua hal itu, bahkan lebih, terjadi diluar kendaliku, terjadi diluar rencanaku.
lalu, untuk apa sekarang aku risau?
untuk apa sekarang aku cemas akan sesuatu yang Allah sudah takdirkan untukku ataupun yang tidak ditakdirkan untukku.
Aku tidak tau apa yang akan Allah Subhanahu Wata'ala berikan kepadaku satu detik setelah ini, esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan atau tahun tahun selanjutnya. Aku hanya bisa mempersiapkan segalanya yang terbaik, ikhtiar dan terus belajar, berdiskusi dengan orang-orang hebat dan yang pasti berdoa.
bahwa ada Allah Subhanahu Wata'ala yang memiliki sebaik-baiknya rencana
bahwa ada Allah Subhanahu Wata'ala yang mengatur urusan rezeki, jodoh, dan kematian setiap hamba-NYA
bahwa ada Allah Subhanahu Wata'ala yang tau kapan sesuatu itu baik untukku ataupun yang belum baik untukku
rasanya ingin menyerap setiap makna dari udara dan menanyakan,
"Ya Allah kedepannya akan seperti apa?"
"Ya Allah kuserahkan segalanya hanya kepada-MU"
Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah
Komentar
Posting Komentar