Dua Muka
Ragamu berada dalam keramaian tapi wajahmu seolah kebingungan melawan raut yang seharusnya terpancar menekan beban agar tak kelihatan bersembunyi dibalik giliran lampu lampu malam dan suara bising yang mengalihkan jeritan dalam dada seolah semua terhapus sirna tergantikan sesaat padahal ia selalu siap kembali merasuki raga yang lemah itu. sendu sendiri engkau bercerita tentang kado yang kau terima entah apa itu yang jelas rasanya lebih pahit daripada biji kopi tak ada nikmat sama sekali tugasmu hanya bagaimana ia pergi dan berharap ada yang datang membawa gula sebagai ganti jika boleh saja diam sesaat, pasti tubuhmu begitu berisik dan berteriak tak terima selalu dibawa tak sesuai arah. letih ingin berhenti