Titik Balik

Bismillahirrahmanirrahim,

Pagi itu tepat hari Selasa, 5 Februari 2019 percakapanku dan mentorku dibuka dengan permohonan doa untuk kesembuhan seseorang, seseorang yang ada disekeliling kami, seseorang yang bagiku adalah contoh nyata kelembutan dan keteduhan wanita.

Beliau dikabarkan masuk ruang ICU karena mengalami pre-eclamsia berat dan sudah masuk fase kritis, pre-eclamsia adalah gangguan kehamilan dimana si ibu mengalami tekanan darah tinggi dan urin mengandung protein yang terlalu banyak, lengkapnya bisa temen-temen baca disini https://m.fimela.com/parenting/read/3838902/penyebab-kehamilan-mengalami-pre-eclampsia-part-1 

Preclamsia biasanya terjadi pada seorang wanita yang sedang mengandung, iya, beliau sedang mengandung 8 bulan menuju 9 bulan. Dan si ade bayi harus dikeluarkan demi menurunkan risiko yang tidak diinginkan antara keduanya.

Sang ibu ada di ICU, dan ade bayi ada di NICU.

Sedih? Jelas, karena beliau salah satu orang terdekat yang baik. Baik dalam artian sesungguhnya.

Malam harinya,
Saat aku dan mentorku hendak melanjutkan diskusi kami, kabar itu datang, kalimat yang selalu menyendak hati,

"Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji'un...telah berpulang ke Rahmatullah... Sahabat  kita tercinta Birawani Dwi Anggraini...pd pukul 23.00. Mohon maaf apabila ada kesalahan almarhumah selama hidupnya...🙏🙏🙏"

Rasanya, seperti mimpi, sangat seperti mimpi. Beliau yang sebelum liburan semester ini masih berpapasan denganku, masih terbayang wajah dan senyumnya, perutnya yang masih sempat aku elus, dan kalimat singkat penyemangat yang teduh.

Ya allah, masih seperti mimpi. Pun saat aku menulis tulisan ini.

Masih terbayang beliau yang duduk dikursi hitam, memperhatikanku presentasi sebuah buku, atau saat beliau duduk dikursi penonton saat aku menjadi MC dalam acara yang dilaksanakan di auditorium kampusku.

Masih sangat terbayang.

Aku masih terpaku, air mataku tidak keluar tetapi jantungku berdegub kencang, kepalaku seperti roll film yang diputar ulang mengingatkan kejadian-kejadian lampau, mulutku bergetar.

Diskusiku dan mentorku selesai saat itu juga karena beliau juga sahabat dari mentorku. Kami berdua perlu waktu untuk menenangkan diri. Kami berdua sama-sama kaget.

Hingga lewat tengah malam, aku masih belum bisa memejamkan mata. Tapi mata terasa berat seperti habis menangis.

Aku terlelap seketika, sampai terbangun di pagi hari, sekitar pukul 04.00, aku memutuskan untuk tidak magang hari ini, aku memutuskan untuk takziah ke rumah almarhumah di Jakarta Selatan. Yang ada dalam fikiranku saat itu, kunjungilah kerabatmu yang tengah berduka nis, secara tidak langsung kamu juga sedang mencari teman untuk mengunjungimu pada giliranmu nanti.

1.5 jam perjalanan berlalu, akhirnya aku sampai dirumah duka, ya seketika rasanya masih seperti mimpi, jantung kembali berdegub kencang, pandanganku tertuju pada teman-teman yang sudah menunggu lebih dulu disana, aku di antar untuk menemui suami almarhumah, dan keluarganya, aku tutup setengah wajahku dengan bagian depan khimar yang aku pakai karena aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku melewati seorang anak lelaki dan perempuan yang tengah terdiam dengan pandangan kosong didepan pintu, dan aku mulai memasuki rumah beliau, yang mana, jasad beliau sudah terbaring disana.

Disitulah, yang terbendung semalaman akhirnya tumpah juga.

Benakku saat itu, walaupun kita baru betemu sebentar (+- 1.5 tahun) tapi sosoknya seolah sudah sangat dekat.

Beliau adalah salah satu tempat konsultasi lembaga dakwah yang aku ikuti di fakultas tetapi khusus akhwatnya (perempuan). Beliau juga tergabung dalam projek masjid seru, beliau pengagas kajian kemuslimahan dosen dan turut membina kajian kemuslimahan mahasiswa setiap hari Jum'at.

Pertanyaannya, siapa yang nanti akan melanjutkan itu semua?

Terdiam aku melihat jasadnya, beliau meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah in syaa allah. Disitulah titik baliknya.

Aku terbangun dari dudukku, keluar dari ruangan itu, memeluk beberapa orang terdekat, dan menenangkan diri. Beliau pergi saat kondisiku dan tim sedang diuji beberapa ujian dunia, yang kami sangat butuh orang-orang baik seperti beliau sebagai penenang, dan penasehat. Karena saat ini kami perlu selalu diingatkan untuk sabar, ikhlas, husnudzan (prasangka baik), jujur, berserah hanya pada Allah. 

Aku dan teman-teman mengantar beliau hingga tempat peristirahatan terakhirnya.

Setelahnya, kami berkumpul untuk makan siang sembari berdoa bersama. Dan disini, aku malah semakin mengenal beliau dari cerita-cerita sahabat baiknya yang kebetulan ada dalam timku.

Beliau selalu mengingatkan untuk solat dhuha, untuk datang kajian, untuk ikhlas dan tidak emosi dalam menghadapi suatu persoalan, untuk selalu husnuzhan bahkan kepada orang yang menzalimi kita, untuk selalu baik kepada semua orang apapun balasannya, dan untuk tau batasan diri sebagai seorang muslimin, muslimah, wanita, ibu, istri (karena beliau wanita).

Mentorku mengucapkan nasehat dari Ali bin Abi Thalib yang berbunyi,

"Kita terlahir ke dunia dalam keadaan menangis sedangkan yang lain berbahagia, maka jagalah diri kita agar kita berpulang dalam keadaan bergembira sedangkan yang lain menangis"

Kepergian beliau, menjadi titik balik, bahwa dipanggil dalam keadaan Husnul Khotimah adalah bukan sekedar impian biasa, tapi impian besar, sangat besar. Bukan hanya sekedar doa, tapi upaya untuk mencapainya.

Mungkin kita merasa sudah melakukan hal baik, tapi mungkin bisa LEBIH baik lagi, mungkin kita sudah sabar, tapi mungkin bisa LEBIH sabar lagi, mungkin juga kita sudah ikhlas tapi mungkin bisa LEBIH ikhlas lagi. Mungkin kita sudah solat wajib, tapi mungkin kita bisa TINGKATKAN sunnahnya juga. Mungkin kita suka bersedekah, mungkin kita bisa bersedekah LEBIH BANYAK lagi. Dan kemungkinan-kemungkinan lain yang biasa kita lakukan. Kita bisa tingkatkan lebih dari yang biasa kita lakukan, untuk mempersiapkan diri dipanggil dalam keadaan baik.

Yang semakin membuatku iri, kepergian beliau memberikan contoh bagiku akan Pertemanan yang sesungguhnya, Pertemanan Lintas Dunia, karena di hadapanku saat makan siang itu, ada tiga sahabat yang tengah berdiskusi untuk memberikan hadiah terbaik untuk sahabatnya disana, yaitu untuk terus melanjutkan kegiatan-kegiatan almarhumah agar menjadi amal jariyah.

Masyaallah..

Sungguh teduh dan indah.

Aku bersyukur ada dalam lingkaran ini, aku tenang in syaa allah karena aku berada di antara orang-orang baik ini.


Ps. Sampai hari ini aku belum update informasi mengenai ade bayinya, mohon doanya teman-teman agar dia tumbuh menjadi lelaki sholeh nan gagah perkasa dan menjadi kebanggan orang tua, keluarga, dan jadi pahlawan islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Generasi Masjid

Imajinasi Tengah Malam

Tentang Si Baik