Tentang Si Baik
Dewasa ini, subhanallah, Allah swt kasih banyak banget pelajaran. Tak lepas dari mencari sebuah hikmah, serta orang-orang yang membawanya. Sebenarnya berputar terus disitu, namun kadang, namanya manusia, harus selalu diingatkan.
Bicara tentang orang baik, aku ingin menjadi orang baik, aku ingin adikku juga jadi orang baik, begitu pula orang tua, keluarga, saudara, teman-teman, pasanganku kelak, anak-anakku nanti, cucuku, daaaaaaan seterusnya.
Orang baik punya versinya masing-masing, malah sejatinya orang jahat sekalipun sebenarnya punya sisi baik juga. Dari sharing ilmu yang pernah aku dapat bilang bahwa, sifat dasar manusia memang baik, lingkungan dan keadaan yang menjadi faktor perubahnya.
Siapa orang baik itu? bisa siapa saja, bahkan kamu mungkin?
Orang baik versiku, adalah dia yang mendahulukan kepentingan orang lain, baru dirinya, fokus si baik tentang seberapa banyak orang yang ia bantu, semakin banyak, semakin lebar lekukan senyumnya. Bagi si baik, imbalan atau balasan yang ia dapat hanya sekedar bonus. Si baik selalu dibicarakan, oleh yang menyukainya dan yang tidak menyukainya.
Kalimat itu bukan klise, kalimat itu benar-benar aku rasakan saat bertemu beberapa orang dalam perjalanan pendewasaanku ini. Dari definisi orang baik diatas, aku malu, sepertinya aku belum ada diposisi itu.
Kadang, saat mendengar cerita si baik, aku masih suka greget sendiri, masih suka gemes. Karena respon yang ia lakukan kepada yang tidak menyukainya adalah respon batin, yang harus dan sedang aku pelajari, apa itu?
sabar, ikhlas, dan bersyukur.
Seperti yang aku bilang diatas, asalkan tujuan utamanya sudah tercapai, sudah cukup. Selanjutnya tinggal bagaimana Allah swt menjalankan skenarionya. Tapi bukan berarti tidak ada respon fisik, tetap ada, respon batin itu muncul saat semua tenaga dan ikhtiar sudah dikerahkan.
Orang baik biasanya tidak disukai karena ide atau gagasan yang ia punya. Karena dari situ si baik akan mendapat penghargaan, mendapat perhatian, mendapatkan perlakuan baik dari sekitarnya.
Sedangkan, yang tidak menyukai si baik adalah ia yang belum mengerti, adalah ia yang tidak punya prinsip dan terbawa arus saja, adalah ia yang egois punya kepentingan sendiri, adalah ia yang takut kehilangan perhatian, adalah ia yang iri dan tidak mampu melakukan apa yang si baik lakukan. Yang tidak menyukai si baik, cenderung mencari teman karena jika sendirian, ia tak mampu menatap, malah sukanya buang muka. Sedangkan si baik, sendiri saja sebanarnya bisa, tapi tetap butuh teman dan butuh tim untuk saling menguatkan.
Bicara tentang orang baik, ia tidak akan fokus kepada yang tidak menyukainya. Karena mereka tidak akan mendengarkan itu. Yang paling ngeri, si baik tidak akan membalas mereka dan membuat mereka jatuh, orang baik biasanya bilang, biar Allah swt yang balas. Itu lebih ngeri, karena apa saja mungkin terjadi, membalikkan kondisi dan lain sebagainya. Dan yang aku lihat, orang baik akan mendapatkan kemudahan dalam melakukan sesuatu, ada saja pertolongan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Orang baik memang begitu, banyak hal yang harus kita pelajari dari sosoknya. Karena dunia ini terlalu luas dengan karakter yang begitu banyak. Menjadi si baik, tak ada salahnya bukan?
Bicara tentang orang baik, aku ingin menjadi orang baik, aku ingin adikku juga jadi orang baik, begitu pula orang tua, keluarga, saudara, teman-teman, pasanganku kelak, anak-anakku nanti, cucuku, daaaaaaan seterusnya.
Orang baik punya versinya masing-masing, malah sejatinya orang jahat sekalipun sebenarnya punya sisi baik juga. Dari sharing ilmu yang pernah aku dapat bilang bahwa, sifat dasar manusia memang baik, lingkungan dan keadaan yang menjadi faktor perubahnya.
Siapa orang baik itu? bisa siapa saja, bahkan kamu mungkin?
Orang baik versiku, adalah dia yang mendahulukan kepentingan orang lain, baru dirinya, fokus si baik tentang seberapa banyak orang yang ia bantu, semakin banyak, semakin lebar lekukan senyumnya. Bagi si baik, imbalan atau balasan yang ia dapat hanya sekedar bonus. Si baik selalu dibicarakan, oleh yang menyukainya dan yang tidak menyukainya.
Kalimat itu bukan klise, kalimat itu benar-benar aku rasakan saat bertemu beberapa orang dalam perjalanan pendewasaanku ini. Dari definisi orang baik diatas, aku malu, sepertinya aku belum ada diposisi itu.
Kadang, saat mendengar cerita si baik, aku masih suka greget sendiri, masih suka gemes. Karena respon yang ia lakukan kepada yang tidak menyukainya adalah respon batin, yang harus dan sedang aku pelajari, apa itu?
sabar, ikhlas, dan bersyukur.
Seperti yang aku bilang diatas, asalkan tujuan utamanya sudah tercapai, sudah cukup. Selanjutnya tinggal bagaimana Allah swt menjalankan skenarionya. Tapi bukan berarti tidak ada respon fisik, tetap ada, respon batin itu muncul saat semua tenaga dan ikhtiar sudah dikerahkan.
Orang baik biasanya tidak disukai karena ide atau gagasan yang ia punya. Karena dari situ si baik akan mendapat penghargaan, mendapat perhatian, mendapatkan perlakuan baik dari sekitarnya.
Sedangkan, yang tidak menyukai si baik adalah ia yang belum mengerti, adalah ia yang tidak punya prinsip dan terbawa arus saja, adalah ia yang egois punya kepentingan sendiri, adalah ia yang takut kehilangan perhatian, adalah ia yang iri dan tidak mampu melakukan apa yang si baik lakukan. Yang tidak menyukai si baik, cenderung mencari teman karena jika sendirian, ia tak mampu menatap, malah sukanya buang muka. Sedangkan si baik, sendiri saja sebanarnya bisa, tapi tetap butuh teman dan butuh tim untuk saling menguatkan.
Bicara tentang orang baik, ia tidak akan fokus kepada yang tidak menyukainya. Karena mereka tidak akan mendengarkan itu. Yang paling ngeri, si baik tidak akan membalas mereka dan membuat mereka jatuh, orang baik biasanya bilang, biar Allah swt yang balas. Itu lebih ngeri, karena apa saja mungkin terjadi, membalikkan kondisi dan lain sebagainya. Dan yang aku lihat, orang baik akan mendapatkan kemudahan dalam melakukan sesuatu, ada saja pertolongan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Orang baik memang begitu, banyak hal yang harus kita pelajari dari sosoknya. Karena dunia ini terlalu luas dengan karakter yang begitu banyak. Menjadi si baik, tak ada salahnya bukan?
Subhannallah
BalasHapus