Generasi Masjid

Sabtu, 2 Juni 2018 kemarin menjadi saat paling mendebarkan sepanjang pengalamanku menjadi Master of Ceremony. Pada hari itu, komunitas atau gerakan yang kami (dosenku, asisten dosen, dan teman) dirikan, Masjid Seru, melaksanakan workshop perdananya mengenai Pengembangan dan Pemberdayaan Masjid, yang tentunya mengundang para pembicara hebat yaitu Bapak Heppy Chandra (Alumni Gontor Ponorogo dan juga seorang Professional Public Speaker) dan juga Ustadz Nur Fajri Ramadhon (Co-Founder Yayasan BISA). Sampai di sini aku masih bisa mengontrol detak jantungku.

Poster Workshop


Namun, setelah tau bahwa peserta yang hadir adalah Calon Hafidz dan Hafidzah Indonesia Quran Foundation, rasanya gugup luar biasa. Antara senang, takut, dan malu, rasanya campur aduk, walaupun beberapa wajahnya aku kenal karena pernah bertemu dalam kegiatan lain. Suasana hati mulai cair saat salah seorang akhwat memanggil namaku dan ternyata dia adalah teman dari fakultas lain, ya obrolan beberapa menit sebelum acara dimulai membuat tubuh lebih menghangat.

Sisi lain yang memotivasiku untuk tidak melewatkan kesempatan ini adalah tentu saja topic yang dibicarakan. Setelah beberapa waktu kebelakang pembahasanku tidak jauh dari fungsi masjid, pemuda dan masjid, masjid di zaman Rsoulullah SAW, dll, ternyata ada hal yang lebih memprihatinkan yang perlu perhatian khusus terlebih kita yang masih punya adik-adik kecil, saudara sepupu atau keponakan.

Sebelum melanjutkan pembahasan, aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan seorang ibu di masjid dekat rumah pada hari pertama solat tarawih. Saat sedang sesi Ceramah, kondisi suara penceramah tidak terdengar begitu jelas karena ramainya anak-anak yang bermain di pelataran masjid. Sehingga si ibu bilang, "Duh ramai banget di sini neng, kalau dimushola deket rumah ibu mah sepi enak ga ada anak-anak". Aku hanya membalas dengan pertanyaan dimana rumah ibu itu dan selanjutnya kami mencoba mendengarkan ceramah yang suaranya masih kurang jelas itu. Apa poin yang didapat?

Ternyata masih banyak diantara kita yang merasa bahwa kehadiran canda tawa ataupun tangisan anak-anak di masjid adalah pengganggu. Padahal mereka adalah malaikat yang sedang bergembira dirumah Rabb-nya. Mirisnya, aku mendapatkan kiriman foto dari salah seorang pembicara yang membuat hati teriris.



tak habis fikir, itu yang aku rasakan. Anak-anak pada usia dibawah 5 tahun atau biasa disebut golden age, adalah masa paling optimal untuk mengenalkan sesuatu yang nantinya akan mereka sukai, salah satunya mengenalkan mereka dengan lingkungan agama mereka, bagi yang muslim tentu saja masjid, Mengenalkan mereka dengan lantunan ayat suci Al-Quran, atau melihat dan mengikutsertakan solat berjamaah, atau sekedar bermain dipelataran masjid. Namun, bagaimana jadinya, apabila saat mereka mempunyai keinginan untuk sekedar berlarian di pelataran masjid, di usir oleh pengurus masjid tersebut. Apa yang akan terjadi? mereka akan trauma dan menganggap masjid bukanlah tempat bermainnya, sehingga mereka akan mencari tempat bermain yang baru, yang tidak bisa dijamin keamanannya. 

Bahkan Hasan dan Husein pernah menaiki tubuh Rasulullah saat mengimami solat para sahabat. Rasulullah sujud begitu lama, sehingga ada sahabat yang bertanya "Mengapa lama sekali sujudmu ya Rasulullah?", Rasul menjawab "Tadi Hasan dan Husein naik di tubuhku, aku khawatir kalau aku bangkit mereka terjatuh, ku biarkan mereka puas bermain".

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah mempercepat solatnya karena ada tangis anak kecil yang memanggil ibunya yang sedang ikut berjama'ah bersama beliau. Itulah masjid Nabi yang tidak pernah sepi dari anak-anak kecil. Namun, fenomena diatas menggambarkan hal sebaliknya.

Mungkin hal itu juga menjadi penyebab mengapa masjid semakin hari semakin sepi akan pemuda, para muazzin pun kebanyakan orang tua yang suaranya bergetar saat menggema panggilan solat.

Tapi aku juga terenyuh akan mulai banyaknya kegiatan yang dilaksanakan oleh ustadz ustadz besar yang melibatkan para pemuda. Contohnya Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Evi Efendi, Ustadz Muzammil Hasballah yang sukses menarik perhatian para pemuda dengan gayanya yang kekinian banget.

Kembali kepada persoalan masjid tadi,

Apakah masjid didekat tempat tinggalmu seperti itu?
Jika tidak, syukur alhamdulillah
Jika iya, mungkin bisa disampaikan kepada para pengurus Masjid untuk mempertimbangkan dampak dari hal tersebut.

Mungkin fenomena "pengusiran anak-anak" itu yang menjadikan kita atau saudara kita sampai saat ini sulit melangkahkan kakinya ke rumah Allah. Tapi diam saja bukanlah jalan keluarnya, itulah salah satu program yang ingin Masjid Seru lakukan kepada beberapa masjid yang saat ini cakupannya masih sekitar Depok. Semoga bisa merambah ke masjid-masjid lain.

Kelak, akupun ingin masjid menjadi tempat bermain favorit anak-anakku. Tanpa takut disebut tidak keren, tanpa takut disebut tidak gaul. Karena sejujurnya ialah yang keren, karena namanya dikenal sampai ke langit.

“Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawa dan gelak bahagia anak-anak di masjid-masjid. Waspadalah. Saat itu kalian dalam bahaya.”
(Muhammad Al-Fatih, Penakluk Konstantinopel)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Imajinasi Tengah Malam

Tentang Si Baik